"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Kamis, 22 Januari 2015

Dongeng dan Fantasi dalam Rona Zizekian

Dongeng dan Fantasi dalam Rona Zizekian
Telaah Pemikiran Slavoj Zizek tentang Fantasi dan Emansipasi


Wahyu Budi Nugroho
Sosiologi Universitas Udayana

“Evil is, good or truth misplaced.”
[Mahatma Gandhi]

Pendahuluan
Tak diragukan lagi jika saat ini Slovej Zizek [Slavoj Zizek] menjadi satu dari segelintir filsuf penting dunia yang masih hidup di samping Jurgen Habermas, Antonio Negri, Alain Badiou, dan sayangnya; Ernesto Laclau yang baru saja berpulang di April 2014. Terkait Zizek, Adam Kirsch (dalam Gutierrez, 2013: 113) menjuluknya sebagai “filsuf politik paling berbahaya abad ini”. Analisis Zizek bergerak sedari hal-hal remeh yang bermuara pada penekanan-penekanan tajam filosofis lagi tak terduga. Ia berfilsafat lewat toilet, film, novel, ataupun berbagai anekdot yang telah dikenal khalayak. Tak heran, Tony Myers (2003: 1) mengatakan, di tangan Zizek filsafat tak ubahnya fashion; renyah dan menyenangkan untuk ditonton (baca: disimak). Namun, kerenyahannya itulah yang justru berbahaya, paparan Zizek kerap kali membius, namun pada satu titik kita dibangunkan; tersentak dan dikagetkan oleh simpulan-simpulan miris yang tak terpikirkan sebelumnya; tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali mengangguk dan mengamini.

Secara garis besar, pemikiran Zizek merupakan perpaduan unik antara dialektika-Hegel, pemikiran ideologi-politik Karl Marx, dan psikoanalisis-Jacques Lacan. Adapun beberapa kajian yang kerap diusung Zizek antara lain; eksistensi subyek, kapitalisme global, budaya populer, serta “penghidupan kembali” atas kritik ideologi; di mana masing-masing tema tersebut saling terkait antarsatu sama lain. Dalam kesempatan ini, penulis hendak mengulas “dongeng dan fantasi” dalam kerangka kritik ideologi Slovej Zizek—zizekian. Dongeng yang hendak dibahas dalam pengkajian ini adalah Timun Mas, folklore ‘cerita rakyat’ asal Jawa Tengah.

Sekilas “Timun Mas”
Mbok Srini merasa kesepian setelah bertahun-tahun ditinggal suaminya. Ia begitu mengharapkan hadirnya seorang anak tuk menemani kesehariannya yang suwung. Namun, meninggalnya sang suami seakan menyirnakan harapannya, hingga suatu malam Mbok Srini bermimpi didatangi sesosok raksasa yang memerintahkannya pergi ke hutan tempat ia biasa mencari kayu guna mengambil bungkusan di kaki sebuah pohon besar. Keesokannya, Mbok Srini pun melaksanakan perintah raksasa tersebut. Alangkah terkejutnya Mbok Srini menemukan bungkusan yang dikiranya seorang bayi, nyatanya hanyalah sebiji timun. Seketika, sosok raksasa pun terbahak di belakangnya, dan menyuruhnya menanam sebiji timun itu agar memberinya seorang anak, namun dengan satu syarat: jika anak itu telah dewasa, maka raksasa tersebut akan kembali tuk mengambilnya (baca: menyantapnya) (Samsuni, 2009).

Hari demi hari berlalu, Mbok Srini merawat biji timun yang ditanamnya dengan sepenuh hati. Tatkala mulai berbuah, timun tersebut berwarna keemasan, dan ketika dipetik, Mbok Srini terkejut sekaligus senang bukan kepalang, timun tersebut berisi seorang bayi yang kemudian segera diberinya nama Timun Mas. Singkat cerita, Timun Mas tumbuh menjadi sosok gadis cantik, pandai, dan berkepribadian menawan. Tibalah waktu bagi si raksasa tuk mengambilnya. Tentu, Mbok Srini tak rela jika buah hatinya direnggut, ia pun menceritakan yang sesungguhnya kepada Timun Mas. Meski pada awalnya sempat terkejut, namun Timun Mas tak sampai hati marah karena memang telah menganggap Mbok Srini sebagai ibu kandungnya sendiri. Ketika raksasa tersebut benar-benar datang, Mbok Srini mengatakan jika Timun Mas tengah sakit, dan meminta waktu tiga hari lagi tuk mengobatinya. Dalam selang waktu itu, Mbok Srini meminta bantuan pada seorang petapa sakti di puncak gunung. Petapa sakti itu memberinya empat buah bungkusan berupa biji timun, jarum, garam, dan terasi (Samsuni, 2009).

Ketika si raksasa menghampiri rumah Mbok Srini untuk kedua kalinya, Mbok Srini pun menyerahkan Timun Mas dan memerintahkannya (Timun Mas) agar melempar satu persatu bungkusan yang diberikan sang petapa saat si raksasa mengejarnya. Karuan, tatkala raksasa tersebut mulai mengejarnya, Timun Mas melemparkan bungkusan pertama berupa biji timun yang segera berubah menjadi ladang timun yang batangnya menjalar dan melilit si raksasa, namun dengan mudah raksasa tersebut dapat melepaskan diri. Kemudian Timun Mas melempar bungkusan jarum yang sekejap berubah menjadi rerimbunan pohon bambu tinggi lagi runcing, lagi-lagi raksasa itu dapat melaluinya dengan mudah. Setelahnya, Timun Mas melempar bungkusan garam yang seketika berubah menjadi lautan luas nan dalam, rakasasa itu pun dapat mengarunginya. Terakhir, Timun Mas melemparkan terasi yang tiba-tiba berubah menjadi lautan lumpur mendidih. Kali ini raksasa tak dapat mengelak ajalnya, ia tenggelam dan mati. Timun Mas pun kembali pada Mbok Srini dan mereka hidup bahagia untuk selama-lamanya (Samsuni, 2009).

Dongeng sebagai Ideologi
Kiranya, kisah Timun Mas di atas menunjukkan pada kita betapa kentara muatan ideologi di dalamnya. Ideologi, jika mengacu pada pendapat Antoine Destutt de Tracy (dalam Nuswantoro, 2001: 56-57) sebagai “ilmu tentang pemikiran manusia yang dapat menunjukkan pada kebaikan”. Jika ia dapat menunjukkan (mendefinsikan) kebaikan, maka di satu sisi, ia dapat pula mendefinisikan kejahatan atau keburukan. Sesosok raksasa yang digambarkan bertubuh besar dan gemar menyantap manusia agaknya merepresentasi kejahatan—itulah mengapa ia sarat kalah di akhir cerita, sedangkan Mbok Srini yang merawat Timun Mas dengan sepenuh hati sebagai perlambang kebaikan dan kebenaran. Namun dalam pandangan Zizek, persoalan tak menjadi sesederhana itu, yakni sekedar menjamah aspek “kulit” dari ideologi. Layaknya pandangan teori kritis, ideologi sengaja menciptakan ilusi untuk mengatasi realitas (the Real); realitas tanpa realitas. Namun di sisi lain, ideologi juga berupaya menciptakan (menjaga) jarak dengan subyek. Ini sebagaimana problem subyek dengan obyek kepuasan dalam psikoanalisis Lacan (dalam Zizek, 2008: 134), jika subyek dengan obyek kepuasan tak berjarak, maka “keinginan” atau “kebahagiaan” akan cepat sirna, oleh karenanya dibutuhkan jarak agar subyek ajeg mengejar atau mencari—supaya terus memiliki minat. Pertanyaannya, dengan apakah jarak itu dibuat? Jawabnya: fantasi!.

Bagi penulis, berseberangan dengan Zizek yang masih menghormati ideologi kiri, baik kapitalisme maupun sosialisme-komunis bermain dengan fantasi agar tak kehilangan pendukung. Masyarakat kapitalis berfantasi dengan era “konsumsi tingkat tinggi” yang bakal diciptakan mekanisme trickle down effect, sedangkan dahulu masyarakat komunis terbius oleh mimpi tata masyarakat sama rasa-sama rata. Namun, ketika masyarakat telah merasakan dampak nyata dari kerja ideologinya—terutama masyarakat kapitalis—maka tak ada lagi yang tersisa, meminjam istilah Ritzer: “mengonsumsi kehampaan”, ideologinya tak lagi menarik. Terlepas dari kompetisi lawas kedua ideologi tersebut, bagi Zizek analisis ideologi bersifat spektral, artinya daya rambat ideologi pada bidang-bidang kehidupan berbeda antarsatu sama lain. Bisa jadi ia lebih memiliki pengaruh lewat film, novel, atau penataran-penataran yang sengaja dibuat penguasa (baca: pemerintah). Bagi penulis, dongeng yang sekaligus memuat dimensi fantasi lebih memiliki daya cengkram, ia selalu berhasil menjaga jarak dengan subyek dan mengatasi realitas. Akan tetapi, kelemahannya terletak pada fantasi “yang telah diketahui” atau “tertebak”. Dengan kata lain, ideologi akan menjadi lebih kuat ketika fantasinya urung diketahui atau belum terbukti.

Dalam hal streotipe atau rasisme misalkan, Zizek (2008: 128-133) berpendapat bahwa hal tersebut muncul akibat fantasi yang tak diketahui. Sebagai misal, Yahudi sebagai bangsa yang kerap menjadi obyek rasisme disebabkan oleh ketidaktahuan kita akan aktivitas dan gerak-gerik mereka yang sesungguhnya, atau apabila hendak dikata lebih vulgar: “Apa yang mereka inginkan dari kita?!”. Inilah yang kemudian memunculkan bayang-bayang tentang konspirasi Yahudi seluruh dunia, freemasonry, dan lain sejenisnya. Bagi Zizek, rasisme yang diciptakan oleh fantasi ideologi setidaknya menyangkut dua hal; (1) Pihak asing memiliki akses istimewa terhadap jouissance ‘kenikmatan’, dan (2) Pihak asing mencoba mencuri jouissance kita. Dalam kasus Timun Mas, dipaparkan secara jelas bagaimana si raksasa berupaya mencuri jouissance Mbok Srini, yakni Timun Mas. Melalui fantasi ideologi, kita diajak mempersoalkan hal-hal yang sesungguhnya tak perlu dipersoalkan. Dapatlah dibayangkan Mbok Srini berucap dalam benaknya, “Andaikan raksasa itu tak ada, aku dan Timun Mas bakal hidup tenang dan bahagia”. Di sini, Mbok Srini menjadi the Symbolic yang merepresentasikan diri sebagai “kebenaran” karena mempertahankan kehidupan; the Symbolic yang mengatasi the Real—bahwa kenyataannya Timun Mas merupakan milik/pemberian si raksasa.[1]
             
Selanjutnya, fantasi ketiadaan raksasa dan kehidupan bahagia tanpa celah bersama Timun Mas membuat Mbok Srini meminta bantuan pada seorang petapa. Dalam pandangan Zizek, tindakan Mbok Srini tidaklah didasari upaya untuk membunuh raksasa itu sendiri, melainkan didasari oleh fantasinya. Di sinilah kita kerap luput, menyangka tindakan subyek dimotivasi oleh the Real, nyatanya oleh fantasinya sendiri. Hal ini menjadi mungkin mengingat karakter fantasi sebagai “Che vuoi?” [“Apa yang kau inginkan dariku?”] menurut Zizek (2007: 40). “Apa yang kau inginkan dariku” membuat subyek (the Symbolic) dapat bertindak senekat apapun, sebagai kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. Bagi Zizek (2007: 47, 51-52), terdapat tiga karakter dari fantasi; (1) Fantasi merupakan pertahanan melawan hasrat the Other (pihak asing) yang termanifestasi lewat “Che vuoi?”, (2) Fantasi menjadikan kita individual, subyek yang menilai realitas secara subyektif, terbukti lewat rentannya fantasi kita akan gangguan pihak lain, dan (3) Fantasi adalah cara kita mengatur jouissance.

Dalam kerangka kritik ideologi Zizek (2008: 43), agaknya dongeng terklasifikasi dalam dimensi ideological belief, yakni materi atau manifestasi eksternal sebagai pelengkap ideologi. Sementara, ideologi utama yang memayunginya, ideological doctrine, tampak melalui negatifnya sosok nonhuman, dalam hal ini raksasa yang dianggap sebagai the Other—bahwa segala sesuatu yang bukan manusia atau tak manusiawi adalah buruk. Dimensi terakhir, yakni ideological ritual, menunjuk pada internalisasi dari sebuah doktrin, bagaimana kita secara spontan menganggap kematian sebagai hal yang buruk, sedangkan sebaliknya dengan kehidupan; dalam konteks ini Timun Mas yang hendak disantap si raksasa. Tentu, kita dapat mempertanyakan kembali buruk-tidaknya kematian dalam kehidupan nyata melalui perkara yang diajukan Patch Adams terkait keutamaan “kuantitas hidup” ataukah “kualitas hidup”.

Refleksi: Fantasi dan Emansipasi
Adakah jalan untuk mengatasi fantasi, sebagaimana fantasi mengatasi realitas? Zizek (2008: 141) menawarkan solusi berupa traversing the fantasy atau “melintasi fantasi”; “…only ‘traversed’: all we have to do is experience how there is nothing ‘behind’ it” [“…hanya dengan ‘melintasinya’ (fantasi): kita akan mendapati pengalaman bahwa tak ada apapun ‘di balik’ itu (fantasi)”], ucap Zizek. Sebagai misal, apabila bangsa Yahudi di suatu negara benar-benar musnah, apakah negara tersebut benar-benar akan tentram lagi sejahtera tanpa persoalan apapun?. Begitu pula pada kasus Timun Mas, jika si raksasa tiada atau tak ada dalam narasi dongeng, apakah Mbok Srini dan Timun Mas akan benar-benar hidup bahagia untuk selamanya? Tidakkh ada persoalan lain yang mendera mereka? Manusia jahat yang menggantikan peran si raksasa mungkin? Mbok Srini yang dipatuk ular ketika suatu kali mencari kayu di hutan? Atau Timun Mas yang kelak menikah dan mendapati suami jahat?. Pertanyaannya, bagaimanakah perlintasan fantasi dapat dilakukan? Mengacu pada dialektika Hegel, seakan Zizek mengajak kita melampui rangkaian tesis-antitesis jauh ke depan, seolah satu tahap yang telah cukup paripurna dari roh absolut telah tampak meski belum terwujud. Secara sederhana, Zizek (1992: 5-6) memisalkan dengan “surat” yang selalu sampai ke tujuan; terdapat perbedaan atmosfer ketika kita tengah menantikannya dan saat kita telah memegang atau membaca surat tersebut, traversing the fantasy mengajak kita seolah telah memegang surat tersebut. Memang, perspektif Zizek dalam kritik ideologi terkadang dapat menjadi begitu konservatif. Tegas dan jelasnya, tak mudah memaparkan pemikiran Slovej Zizek lewat segelintir narasi. Tabik!



*****



Referensi

Primer;
Zizek, Slavoj, 2008, The Sublime Object of Ideology, Verso.
___________, 2007, How to Read Lacan, WW Norton & Company.
___________, 1992, Enjoy Your Symptom!, Routledge.

Sekunder;
Myers, Tony, 2003, Slavoj Zizek, Routledge.
Nuswantoro, 2001, Daniel Bell: Matinya Ideologi, Indonesiatera.

Jurnal;
Gutierrez, Ricardo Jose E., 2013, The Phenomenon: Slavoj Zizek: Deadly Jester or Thinker of Our Age?, Kritike, Vol. 7/No. 2, December 2013, pp. 112-129.

Internet;
Samsuni, 2009, Timun Mas, http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/163-timun-emas (diakses pada 11 November 2014).



[1] Namun the Real sebagai raksasa dalam pengkajian ini sesungguhnya ditempatkan pula sebagai the Symbolic, simbol “kejahatan”, mengingat the Real tak terbahasakan atau tak terjangkau, dan hanya dapat terwakili pula oleh simbol.

Minggu, 18 Januari 2015

Over-Eksploitasi melalui Kerja Imaterial; Refleksi atas “Keramah-tamahan” Artifisial

Over-Eksploitasi melalui Kerja Imaterial;
Refleksi atas “Keramah-tamahan” Artifisial


Wahyu Budi Nugroho
Sosiologi Universitas Udayana

“Selamat datang…”
“Selamat berbelanja kembali…”
           
Serangkai kalimat di ataslah yang biasa kita tuai kala memasuki minimarket franchise yang kini banyak bermunculan di kota-kota tanah air. Pernahkah kita berpikir, bagaimana bisa para pegawai minimarket tersebut dapat terus bersikap ramah tiap kali pengunjung datang dan pergi. Prosedur! Tentu, inilah jawabnya. Tak diragukan lagi jika setiap tindak-tanduk mereka diatur oleh prosedur, tak hanya sedari cara kerja (operasional) atau cara berpenampilan, prosedur telah mengkooptasi para pegawai tersebut hingga ranah sekecil-kecilnya: afeksi. Hal ini mengingat, mereka tak lagi sekedar menjadi “operator” dari barang-barang yang dijualnya, melainkan turut “diperkosa” mengkomodifikasi diri sebagai bagian dari paket barang-barang yang dijual di tempatnya bekerja. Komoditas, sebagaimana kita pahami; merupakan segala sesuatu yang sengaja diproduksi atau dibuat untuk diperjual-belikan. Dengan demikian, afeksi buatan (artifisial) pun terklasifikasi di dalamnya mengingat turut ditujukan bagi ihwal berorientasi ekonomis/profit. Afeksi artifisial ini menyebabkan para pegawai begitu rentan akan eksploitasi-berlebih. Satu pertanyaan pun menyerua: “Bagaimana dampak afeksi artifisial ini terhadap dimensi kemanusiaan?”.

Tesis Lawas tentang Nasib Pekerja
Tak dapat dipungkiri, terdapat perbedaan mendasar antara terminus pekerja, buruh, dan pegawai. Dalam konteks ini, digunakan istilah “pegawai” dan “pekerja” secara bergantian guna memudahkan pemaparan. Ialah Marx, yang sempat meramalkan bakal kian menderitanya nasib pekerja (worker) di kemudian hari. Ramalan Marx menjadi shahih sebelum mahzab neoklasik hadir dan menawarkan berbagai “kebaikan” bagi para pekerja; tunjangan kerja, asuransi kesehatan, jaminan keselamatan kerja, bonus akhir tahun, dan lain sebagainya. Serangkaian hal tersebut terkulminasi lewat munculnya tesis End of History-Fukuyama; bahwa kapitalisme merupakan ideologi pemenang sejarah, dan meskipun ideologi ini masih menyimpan kekurangan di sana-sini, akan tetapi kapitalisme terbukti memberi infrastruktur terbaik bagi umat manusia.

Huntington dan Derrida adalah dua dari sekian banyak pemikir yang terlibat dalam diskursus menentang tesis Fukuyama di atas, sebelum kemudian hadir Antonio Negri yang menyadarkan betapa spat-kapitalismus ‘kapitalisme lanjut’ benar-benar masih “bermasalah akut” dan justru melahirkan eksploitasi lebih parah terhadap para pekerja. Bagi Negri, persoalan tersebut disebabkan oleh tak sebatasnya eksploitasi yang kini sekedar menjamah aspek fisik, melainkan pula nonfisik. Meminjam Foucault dan Deleuze, Negri menggunakan istilah “biopower”. Secara ringkas, biopower didefinisikan sebagai, “…the generation of energy from renewable biological material” [“…generasi energi dari materi biologis yang dapat diperbaruhi”]. Dalam konteks ini, biopower yang dimaksud mencakup seluruh daya yang dimiliki manusia, baik fisik maupun nonfisik (body and mind) yang dapat diperbaruhi; nonfisik terutama dimensi kesadaran dan perasaan manusia. Oleh karenanya, mereka yang bekerja di ranah intelektual, informasi-komunikasi, jasa, pelayanan, dan berbagai lapangan kerja “imaterial” lainnya dapatlah dikatakan lebih mendayagunakan biopower-nya. Istilah ini berkelindan dengan terminus “biopolitik” sebagai tata lebih tinggi yang memayunginya.

Biopower dan Biopolitik
Pendayagunaan biopower menyimpan ambiguitas tersendiri, baik sedari tujuan maupun cara kerjanya. Dinyatakan, prinsip pendayagunaan biopower tidaklah bertujuan untuk mendisiplinkan para pekerja, melainkan merangsang produktivitas mereka. Di era industrial (modern), optimalisasi biopower mewujud lewat hadirnya panoptikon yang selalu mengawasi, sedang di era pos-Industrial saat ini, biopower termanifestasikan dalam autonomisasi, fleksibilitas, dan kreativitas individu yang dinilai dapat meningkatkan produktivitas dengan sendirinya melalui kontrol informasional dan imaterial yang bersifat abstrak—prosedur kerja yang dianggap sejalan dengan idealisme nilai, norma, berikut kultur masyarakat luas, yang juga telah tertanam pada diri setiap pekerja melalui proses soialisasi sejak dini. Inilah mengapa terminus biopower kemudian berkaitan erat dengan “biopolitik”. Dengan kata lain, biopolitik menegaskan landskap sosial yang telah termapankan sebelumnya, melegitimasinya, dan menerapkannya bagi tujuan tertentu.[1] Lebih jauh, biopolitik memandang manusia sebagai spesies dan sumberdaya yang dapat dikontrol; baik dari segi natalitas maupun mortalitasnya, penciptaan atau peneguhan definisi sehat jasmani-rohani antar sesamanya, pelembagaan di bidang moral, estetika, dan lain sejenisnya yang menampakkan diri sebagai “kontrol halus” terhadap individu maupun kolektif.

Tak seperti di era klasik atau modern di mana biopolitik umum ter-representasi lewat eksistensi kerajaan atau negara yang memiliki kekuasaan legal-formal, kini biopolitik turut mewujud dalam korporasi atau perusahaan multinasional lintas-bangsa/negara. Keberadaan korporasi inilah yang kemudian turut diistilahkan sebagai imperium atau “kekaisaran” oleh Hardt dan Negri. Tak ada yang berubah dari cara kerja kekaisaran, sedari dulu ia berlaku layaknya “vampir” yang hidup dengan cara menghisap (darah) organisme hidup lainnya. Dalam konteks kapitalisme posmodern, kehidupan para pemodal di pusat sepenuhnya bergantung pada “kerja nyata” para pekerja di peri-peri. Pemodal ini dapat berada di suatu tempat (negara), dan para pekerjanya di tempat lain yang sangat berjauhan; sedang kehidupan para pemodal ini sesungguhnya bergantung sepenuhnya pada para pekerjanya.[2] Melalui konstelasi inilah biopower sengaja diproduksi biopolitik guna menunjang kehidupan imperium.

Biopolitik-power dan Implikasi Kemanusiaan
Telah jelas bagaimana karakteristik biopolitik yang memuat standar ganda. Di satu sisi, ia ditujukan untuk penciptaan biopower yang efisien sejalan dengan kultur masyarakat pekerja (keramah-tamahan, penerimaan, kenyamanan, dan lain sejenisnya); namun di sisi lain, pendayagunaan biopower menimbulkan eksploitasi berganda pada para pekerja. Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, eksploitasi yang berlangsung tak sekedar menjamah aspek fisik, melainkan pula nonfisik (afeksi). Beralaskan folkways ‘kebiasaan sosial’ yang telah melembaga, dimensi “rasa” dari para pegawai ini dilumpuhkan. Kesadaran yang dibangun tak lagi bersifat spontan, tetapi dipaksakan oleh prosedur. Penghargaan asli dan palsu pun kian tersamarkan, dan agaknya, kita—sebagai konsumen—merasakan benar hal ini, keramah-tamahan yang disajikan seperti tembakan yang “menindak”diri kita; tak tahu bagaimana harus meresponnya karena memang kesemua itu adalah prosedur, dan kerap kali justru membuat kita “kikuk”. Kita digiring pada atmosfer yang sama untuk merayakan keramah-tamahan, sementara situasi perasaan dan kognitif kita belum tentu mendukung bagi kondisi tersebut. Akhirnya, kita melihat bagaimana keramah-tamahan diobral, mubazir, dan semua menemui bentuknya sebagai kepalsuan. Kita dipaksa merasa bahagia, merasa nyaman, juga dipaksa merasa diterima; kebahagiaan, kenyamanan, dan penerimaan yang bersifat artifisial karena bagaimanapun juga lokus utama dari minimarket tersebut adalah ekonomi—menjaring sebanyak-banyaknya pelanggan.

Dapatlah dibayangkan ketertindasan psikis para pegawai minimarket tersebut yang setiap waktu sarat beramah-tamah pada banyaknya pengunjung yang datang dan pergi, terlebih menilik kenyataan bahwa pembangunan setiap minimarket mempertimbangkan rasio kepadatan penduduk di setiap lokasi. Berbagai minimarket yang ada kemudian tak ubahnya sebagai ruang simulasi perasaan bagi para pegawainya, mereka tak lagi diharuskan menjadi manusia, melainkan melampauinya: menjadi “malaikat” yang wajib selalu bersikap baik lagi ramah; tak peduli saat itu mereka tengah bersedih, tertekan, atau mengalami kegalauan akut.

Kiranya, pengalaman penulis sebagai berikut turut mempermudah upaya pemaparan gejala “manusia bukan manusia” sebagai implikasi-ikutan dari hagemoni biopolitik-power.

Suatu malam, penulis membeli barang di minimarket dekat rumah. Seperti biasa, para pegawai menyapa dengan ramah. Saat tiba bagi penulis untuk membayar, pegawai kasir bertanya, “Ada kartu member-nya, Pak?”. “Tidak ada,” jawab penulis singkat. Sejurus penulis melangkah keluar, namun belum sampai pintu kaca terjamah, penulis teringat akan satu barang yang belum dibeli. Penulis pun bergegas kembali dan mengambil barang tersebut, dikarenakan situasi minimarket sedang sepi, penulis segera berhadapan kembali dengan pegawai kasir yang sama—tanpa mengantri. “Ada tambahan lain, Pak?” tanyanya pada penulis. “Tidak,” lagi jawab penulis singkat. Akan tetapi, alangkah terkejutnya penulis kala pegawai kasir ini mengajukan pertanyaan serupa sebagaimana perjumpaan sebelumnya: “Kartu member-nya ada, Pak?”. Gila! Batin penulis. Pengalaman ini tentu penulis catat sebagai sebentuk pelecehan terhadap kemanusiaan; pelecehan si pegawai terhadap dimensi kemanusiaannya sendiri, juga pelecehan terhadap penulis.

Jauh sebelumnya, Martin Heidegger telah mengingatkan kita akan “pola pikir teknologi” yang memunculkan terminus other atau “liyan”. Baginya, hal tersebut disebabkan oleh eksistensi kesadaran; kesadaran yang dimiliki manusia menyebabkannya memandang segala sesuatu sebagai obyek—terutama bagi entitas yang tak berkesadaran. Hal ini menimbulkan dikotomi antara “ada” dan “pengada”. “Ada” adalah semat bagi mereka yang berkesadaran, sedangkan “pengada” merupakan label bagi setiap entitas yang tak berkesadaran. Lebih jauh, pola pikir ini menyebabkan “ada” (manusia) menganggap segala sesuatu sebagai “pelengkap” keberadaannya (baca: kehidupannya).[3] Heidegger memberikan contoh apik tentang eksistensi “singa bukan singa” serta “harimau bukan harimau” di kebun binatang. Menurutnya, singa dan harimau yang ada di kebun binatang bukanlah singa atau harimau yang sesungguhnya. Hal ini mengingat, dikarenakan intervensi bernama “ada”, binatang-binatang tersebut dicerabut dari totalitas kehidupannya. Singa yang sesungguhnya tidaklah berada di kebun binatang dan terpenjara teralis besi, melainkan berkeliaran bebas di alam Afrika sana, begitu pula dengan harimau; harimau yang sesungguhnya tidaklah bertempat di kebun binatang, tetapi rimba belantara Asia atau Amazon sana.

Dalam konteks kapitalisme posmodern, “kaisar” melalui teknologi biopolitik dan biopower yang dimilikinya, berhasil menjadikan dirinya satu-satunya “ada” dengan kesadaran superior yang melindas “ada” lainnya (para pekerjanya) sehingga menjadikan “ada” lain sebagai “pengada”, other, obyek; yang dengan demikian bebas ditindak, termasuk agar merekayasa perasaannya, kesadarannya. Pegawai yang seyogyanya ingat dan tahu—jika penulis tak memiliki kartu member—kemudian sengaja menjadikan dirinya tidak ingat dan tidak tahu dikarenakan prosedur yang mengontrolnya; apalagi julukan yang tepat baginya kalau bukan “manusia bukan manusia”. Sekali lagi, pengkajian ini tak berada pada domain modernitas layaknya “perutinan berlebih” ala Weber, melainkan posmodernitas mengingat dimensi afeksi yang dibawanya.

Fenomena terkait agaknya turut mendorong kita meninjau kembali tesis Robert Pepperell tentang era posthuman ‘pascamanusia’. Bisa jadi, Pepperell terlampau terburu-buru mendaulat era posthuman yang bermula dari fenomena “prostetik”, yakni penanaman mesin anorganik pada bagian-bagian tertentu tubuh manusia, hingga wujudnya yang paling canggih, cyborg (cybernetic organism): manusia setengah robot. Menilik gejala “manusia bukan manusia” di atas, kiranya keberadaan prosedur bagi para pegawai dapat ditempatkan sebagai software yang mengontrol segenap biopower-nya. Prosedur ini merupakan entitas anorganik yang memiliki kontrol penuh terhadap entitas organik, namun hubungan keduanya tak bersifat eksternal, melainkan internal, seolah prosedur tersebut tertransfer dengan sistem bluetooth kemudian tertanam di kepala masing-masing pegawai, mengkooptasi kesadaran dan perasaannya. Hal ini kiranya cukup mentransformasi kebertubuhan pegawai menjadi “benda”, atau yang lebih moderat, “setengah benda”.  

Refleksi
Menjadi begitu jelas betapa sesungguhnya kekaisaran (korporasi) sangat bergantung pada kerja nyata para pekerjanya yang berhadapan langsung dengan pasar. Namun, hagemoni kerja imaterial, di samping material, yang memunculkan over-Eksploitasi seakan tak terhindarkan. Di era informasi dan komunikasi dewasa ini, tentu menjadi hal yang tak sulit menghimpun para pekerja ke dalam satu lini gerakan. Akan tetapi, ini akan menjadi perkara sia-sia mengingat masih banyaknya cadangan tenaga kerja usia produktif di tanah air. Hidden resistance ‘perlawanan terselubung’ mungkin dapat menjadi salah satu alternatif, tetapi, format hidden resistance seperti apa yang sesuai bagi situasi para pegawai minimarket ini? Pertanyaan terkait tentu memerlukan pengkajian lebih lanjut. Sejauh ini penulis menimbang, ihwal termudah guna merespon hagemoni kerja imaterial adalah dengan “otentitas”. Otentitas yang dimaksud tak lantas mendorong pegawai untuk berani menjadi “berbeda” dari yang lainnya—agar menjadi percontohan bagi para pegawai lainnya, melainkan “ketertundukan terhadap diri”: melakukan apa yang ingin dilakukan, dan sebaliknya, tak melakukan apa yang tak ingin dilakukan. Konkretnya dalam konteks ini; beramah-tamah jika sedang ingin melakukannya, dan tak beramah-tamah jika kognitif memang tengah tak mendukung untuk melakukannya.


*****

Bacaan lanjutan;
Adorno, Theodor W. & Max Horkheimer, 2002, Dialektika Pencerahan, IRCiSoD.
Hardt, Michael and Antonio Negri, 2009, Commonwealth, The Belknap Press of Harvard University Press.
______________., 2000, Empire, Harvard University Press.
______________., 1994, Labor of Dionysus: A Critique of the State-Form, University of Minnesota Press.
Pepperell, Robert, 2009, Posthuman: Kompleksitas Kesadaran, Manusia dan Teknologi, Kreasi Wacana.




[1] Contoh biopolitik yang cukup paripurna kiranya ter-representasikan melalui pemerintahan Nazi-Hitler di mana ekspansi geografis bersinggungan dengan kalkulasi-kalkulasi biologis layaknya superioritas ras, lebensraum ‘ruang hidup’, “ladang reproduksi”, juga the final solution (holocaust).
[2] Dalam bahasa Soekarno: “kapitalisme Nyi Blorong”; kepala dari ular itu ada di nusantara, sedangkan buntutnya di Eropa sana.
[3] “Pengada” adalah pelengkap “ada”, dengan demikian “pengada” lebih inferior ketimbang “ada”.

Jumat, 21 November 2014

Harga Diri

HARGA DIRI


“100 ribu, Mbak. Tapi, kau temani aku ke toilet,”
            “Bapak ini apa-apaan sih?! Tak seharusnya Bapak bicara seperti itu!”

            Kemudian ia berlalu, begitu saja. Terminal, selalu sulit menemukan hiburan di tempat ini. Lalu-lalang manusia menjadi pesona mafhum, tak ada yang spesial dari mereka, karena memang, arena ini hanyalah temporalitas yang memusingkan. Betapa transit adalah hal paling memuakkan!

            “Mbak?!” kupanggil lagi pelayan itu, pelayan ceking berwajah tirus cantik yang kutumpu menjadi satu-satunya penghiburku di sini.
            “Ya, Bapak butuh apa lagi?”
            “Aku butuh kamu, Mbak,”
            “Tolong Pak, jangan bicara seperti itu,”
            “200 ribu, Mbak?”
            “Bapak apa-apaan sih?!” ia kembali menggugatku, sama seperti sebelumnya.

            “Mbak,” kupanggil dirinya sebelum mencampakkanku tuk kesekian kalinya.
            “Ya?”
            “Bisa temani aku di sini, Mbak? Ngobrol,”
            “Maaf Pak, saya masih banyak kerjaan,”
            “Sebentaaar saja,”
            “Tidak bisa Pak, maaf.”
            “Oke deh, es tehnya satu lagi kalau gitu,”
            “Baik, Pak,”

            Kusulut rokok, benar-betul tak ada kenikmatan lain di sini. Mungkin juga karena aku sendirian saja di warung ini, tak ada pengunjung lain tuk bercakap. Aku hendak menyibukkan diri, tapi apa?!

            “Ini, Pak,” pelayan cantik itu membawa pesanan di batas rokokku yang setengah, cukup lama memang, apa ia meracunku? Sekejap kulihat lagi tangannya yang putih ditumbuhi cukup lebat bulu. Ini betul-betul tak tertahankan…

“500 ribu, Mbak!”
            “Tolong Pak, jangan bicara seperti itu!”
            “500 ribu lho, Mbak?!”
            “Tidak Pak, saya tidak bisa!”
            “Kamu tidak bisa, atau tidak mau?”

            Sejurus, bus yang t’lah lama kunanti tiba. Aku pergi tanpa menjamah pesanan. Pelayan itu memenangkan harga dirinya. Aku masih suci. Kami semua menang.


*****

Sabtu, 01 November 2014

Green Criminology

GREEN CRIMINOLOGY

Pengantar: Prof. Rob White

Oleh: Hardiat Dani Satria

Seiring perkembangan perubahan hidup masyarakat, bentuk kejahatan lingkungan pun turut berubah. Masyarakat menghadapi permasalahan, antara perkembangan teknologi dan tuntutan kenyamanan di lingkungan tempatnya tinggal. Dengan kata lain, perkembangan teknologi dapat meningkatkan kualitas hidup manusia, sekaligus menimbulkan kerusakan lingkungan.

Menurut White, besarnya minat khalayak dalam perkembangan green criminology dewasa ini menimbulkan berbagai temuan konsep dan teknik analisis baru atasnya. Secara tak langsung, hal ini turut meningkatkan kesadaran betapa telah seriusnya masalah kerusakan lingkungan yang mengancam manusia. Hubungan antara pendekatan sosiologis dan ilmu alam di bidang isu-isu lingkungan, bertujuan untuk memecahkan dan meneliti isu-isu lingkungan. Seiring berjalannya waktu, kita menyaksikan kontribusi green criminology yang lebih besar dan lebih positif.

Green criminology merupakan cabang baru kriminologi, yang dalam dua dekade terakhir berkembang jauh lebih cepat daripada cabang disiplin kriminologi lainnya. Hal ini memperluas bidang penelitian yang begitu cepat pula sebagai konsekuensi perubahan bentuk-bentuk kejahatan lingkungan. Meskipun perkembangannya pesat, namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Perlu diingat, White menegaskan, dalam dunia nyata, situasi adalah sebaliknya, yaitu green criminology menyesuaikan dengan fenomena munculnya kejahatan terhadap lingkungan.

Dalam buku ini, saya mencoba mengimplementasikan konsep-konsep green criminology pada kasus yang terjadi di sekitar penulis. Menggunakan studi kasus di daerah tempat tinggal penulis di Kendal, Jawa Tengah, penulis menjadi tahu seberapa besar peran kriminologi dalam pemecahan kasus kejahatan lingkungan. Kejahatan lingkungan tidak akan pernah selesai melalui penegakan hukum semata. Diperlukan konstribusi semua pihak untuk memberikan perhatian terhadap lingkungan. Segala sesuatunya dalam kebijakan pemerintah ataupun tindakan masyarakat  harus memberikan efek terhadap kelestarian lingkungan, itulah GREEN CRIMINOLOGY.


Pemesanan:
0813-9086-4062

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger