Donate to recover this blog: BNI 0232008541

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Senin, 21 Juli 2014

Obyek, Kecabulan dan Godaan

Obyek, Kecabulan dan Godaan
Telaah Ekstasi Komunikasi


Wahyu Budi Nugroho

Kecabulan: Menggoda dan Mengusik
Kecabulan tak lagi sekedar menyoal hal-hal berbau pornografi ataupun pornoaksi yang disajikan secara implisit: di mana ada godaan, di situ ada kecabulan. Dalam konteks pornografi, nuansa cabul kental terasa kala kita terusik oleh visualisasi-visualisasi seksual yang bersifat “semi”; kita diajak menerawang dan mengetahui dimensi-dimensi visual yang disembunyikan, meskipun pada akhirnya kita takkan pernah benar-benar tahu seluruhnya. Tegas dan jelasnya, kecabulan selalu menggoda dan mengusik.

“Godaan justru datang dari tanda-tanda yang kosong, samar, mentok, ngawur, dan kebetulan belaka; yang menggelincir dengan lancar sehingga mengubah indeks pembiasan ruang.”
[Baudrillard, 2006: 51]

Kini, hampir segala sesuatunya tersaji secara gamblang, akses-akses luas nan tak terbatas pada saluran-saluran pornografi vulgar membuat kita terbiasa dengan tubuh-tubuh bugil, kemaluan sesama ataupun lawan jenis, juga adegan-adegan senonoh. Berbagai hal tersebut, dengan sendirinya mereduksi kecabulan. Segala sesuatunya telah tampak, tak ada lagi yang menarik! Lalu, apa yang tertinggal? Kemuakan dan ke-fatal-an. Fatal, karena “godaan” telah hilang, sedang kesenangan hanya dapat diperoleh melalui godaan. Ini seperti sifat dasar manusia yang selalu tertarik pada teka-teki tuk dipecahkan. Jika misteri telah hilang, lalu apalagi yang dapat dipecahkan?

“Ketika seseorang telah tertipu secara visual, maka ia akan mencari kesenangan dengan menduga-duga, meskipun sesungguhnya tak ada tipuan untuk membodohi … Kesenangan tidak lain adalah nafsu dingin untuk melihat, sementara tidak ada obyek untuk dilihat; nafsu dingin untuk memandang, sementara tidak ada citra untuk dipandang.”
[Baudrillard, 2006: 21 & 23]

Hal serupa termisal apik dalam novel Soren Kierkegaard, The Diary of A Seducer, di mana seorang gadis muda nan ranum merupakan kekuatan penuh teka-teki, dan proses godaan merupakan pemecahan yang juga penuh teka-teki atas kerahasiaannya yang sulit terbongkar. Namun, apakah yang sebetulnya menjadi kunci kerahasiaan gadis muda itu? Jawabnya mudah: “seks”. Sekali si pria yang terusik oleh teka-tekinya berhasil melakukan hubungan seks dengannya, maka tersibaklah segala rahasia gadis muda nan ranum itu; tak ada lagi yang menarik darinya: “Oh, begini rasanya”.


Ketiadaan teka-teki yang sekaligus menandai pemberangusan daya kreativitas manusia guna menyibak dimensi-dimensi tersembunyi pada gilirannya berbuah pada “perkosaan”. Kita dipaksa untuk tahu: “Oh, ‘punyanya’ seperti itu”; “Oh, seperti ini”, demikian seterusnya. Implikasi ikutan yang ditimbulkannya jelas: manusia tak lagi menjadi aktor, melainkan terminal tempat masifnya arus informasi yang singgah dan pergi begitu saja, manusia pun menjadi pasif—akibat korban perkosaan. Akan menjadi lebih bijak dan berdayaguna jika kecabulan selamanya tetap menjadi kecabulan, teka-teki ajeg menjadi teka-teki; dengan begitu, kesenangan akan selalu ada, upaya-upaya kemanusiaan bakal terus eksis membarenginya.

Perkosaan Media; Ekstasi Informasi
Sebuah tembok bertuliskan grafiti tentang nama seseorang dan tempat asalnya. Secara bersamaan, orang itu sesungguhnya tak memiliki sesuatu pun untuk dikatakan, yang terparah adalah bagi mereka yang melihatnya (baca: membacanya), tulisan itu sama sekali tak berdayaguna bagi mereka—sampah visual. Tulisan grafiti itu porno karena dipaksakan, meski mengandung kecabulan ganda; cabul bagi si pembuat karena ia sendiri menerka-nerka motif dari tulisan yang dibuatnya, dan cabul bagi pembacanya karena membuat mereka menerka maksud penulisnya—karena tak berguna bagi mereka.

TV telah menampilkan segala sesuatunya pada kita, baik hal-hal yang kita butuhkan maupun tidak. Sialnya, ia melakukannya secara berulang tanpa kenal lelah. Misal termudah dapat kita temukan pada beberapa stasiun televisi swasta tanah air yang menampilkan hasil hitung cepat pilpres beberapa tempo lalu. Quick count yang ditampilkannya aneh, janggal; di mana jumlah prosentase perolehan suara masing-masing capres-cawapres melampaui 100%, hil yang mustahal bagi mekanisme survei. Namun, TV tersebut terus saja menampilkannya, oleh karenanya, kita dapat mengatainya porno! Meski si Mpu-nya melihat itu sebagai kesenangan karena kecabulan tindakannya, yakni motifnya tuk menggoda, mempengaruhi, dan kemudian mengetahui respon penontonnya yang masih samar. Singkat kata, ia alpa jika tengah memperkosa banyak orang.

Gambar Porno

Lalu, bagaimana dengan audiens yang langsung terkena imbasnya? Sayangnya, kecabulan dan godaan memang tak dapat dihindari. Segera setelah kita berlari dari satu kecabulan, kita bakal menjumpa kecabulan-kecabulan lainnya; semisal Anda berniat memindah channel TV. Mari kita berfokus pada mereka yang bahkan untuk menghindar pun tak bisa, alih-alih berlari—menggandrungi suatu acara TV mungkin sehingga tampilan quick count yang menggelikan tak terhindarkan. Agaknya, kita memang kadung bergantung akut pada TV; untuk berbuka puasa, kita lebih mempercayai TV; begitu pula guna merasakan atmosfer ramadhan, natal, atau tahun baru; kita sangat bergantung pada TV! Inilah ekstasi yang sesungguhnya, momen ketika segala sesuatunya terpusat pada satu spot; mirip kerja seluruh anggota tubuh kita yang terpusat pada otak.

“Ekstasi adalah kondisi di mana seluruh fungsi diciutkan dalam satu dimensi… Seluruh peristiwa, ruang, dan ingatan dimampatkan dalam dimensi tunggal informasi, dan inilah kecabulan.”
[Baudrillard, 2006: 14]

Jika segala sesuatunya telah terpusat sedemikian rupa pada satu hal, maka lagi-lagi kita akan menemui ke-fatal-an. Fatal, karena jika ia tak berfungsi sebagaimana mestinya, lumpuhlah semua yang dikontrolnya; tak ada lagi yang tersisa. Ekstasi sebagai biang seluruh persoalan ini, menyuntikkan teror demi teror yang tak disadari, ia memaksa kita larut dalam dunia serba transparan, dan sembari kita diperlakukan sebagai pengidap schizophrenia yang tercerabut dari dunia nyata, kita menjadi lengah jikalau mimpi yang tengah kita alami mendadak usai. Ini bagaikan epifani yang tiba-tiba menyerua dan mengungkap semua yang dirahasiakannya selama ini. Jika sudah demikian, maka kematian mendadaklah yang terjadi kemudian.

Obyek-obyek Cabul; Ekstasi Sosial
Obyek-obyek cabul tak lagi menjadi monopoli obyek-obyek hidup layaknya Julia Perez, Dewi Persik, ataupun Roro Fitria; melainkan pula pada benda-benda mati tak bernyawa. Masukilah sebuah pusat perbelanjaan, dan kecabulan bakal segera ditemui dimana-mana. Obyek-obyek ini, meskipun tak bernyawa, tetapi mampu berkomunikasi dengan kita. Mereka menggoda kita untuk mencicipi, atau lebih jauh, memiliki. Bagaimana itu menjadi mungkin? Kita sarat mengesampingkan dimensi produksi sebagai esensi lahirnya sebuah komoditas; bagaimana jika bukan produksi, tetapi justru “godaan” yang melatarbelakangi lahirnya komoditas. Jika hadirnya sebuah komoditas memiliki tujuan—dalam hal ini untuk menggoda—maka ia pun sarat memiliki takdir (goal), yakni untuk dikonsumsi!

Roro Fitria

Cara obyek berkomunikasi dengan kita ialah melalui makna-makna yang tersemat padanya. Uniknya, makna obyek bernegasi dengan makna kemanusiaan. Apabila makna kemanusiaan selalu bersifat esensial, abstrak, serta “di dalam”, makna obyek justru bersifat eksistensial, menjadi konkret, dan “di luar”. Makna pada obyek kemudian menjadi sesuatu yang hanya tereduksi pada tampilan luar, dengan premis: sekedar yang terlihatlah yang bernilai bagi kita. Hal ini tak lain disebabkan oleh strategi godaan.

“Inti strategi godaan adalah membawa segala hal pada keadaan murni tampilan luar, membuat mereka menyebar dan jemu dalam permainan ‘petak-umpet’ tampilan-tampilan luar … karena segala sesuatu telah terperangkap dalam kerangkeng makna, ke dasar tempat makna-makna harus ditambang, dan kemudian ditampilkan ulang dalam tatanan apa-apa yang terlihat. Akibatnya, rahasia kehilangan artinya dan hanya yang terlihatlah yang kemudian menjadi bernilai bagi kita.”
[Baudrillard, 2006: 54]

Spectacle society ‘masyarakat tontonan’. Itulah kondisi sosial kita kala tampilan makna luar mengepung di sana-sini. Apa yang menjadi lebih penting adalah tampilan luar; yang buruk terlihat cantik, dan yang cantik tampak lebih cantik. Masyarakat tontonan bekerja dengan prinsip “peniruan atas peniruan” sehingga kemurnian tak lagi tampak, tertutup oleh lapis demi lapis simulasi (rekayasa) yang tak terhingga. Dengan demikian, apa yang dihasilkan kemudian adalah “kelebihan atas kelebihan”, sebentuk hiperrealitas: ihwal yang melampaui kenyataan. Lambat-laun, masyarakat tontonan akan menuju pada sikon “masyarakat seremonial”; masyarakat yang ajeg merayakan sesuatu namun tak paham ihwal yang dirayakannya. Perayaan-perayaan ini nantinya hanya menemui kekosongan karena segala sesuatu telah melampaui definisinya sendiri. Akhirnya, kita pun sarat kembali pada ke-fatal-an guna menuntaskan segala bentuk ironi di atas.

“Jika Anda lebih cantik dari saya, Anda akan mati; lebih benar dari saya, Anda akan mati; lebih nyata dari saya, Anda akan tersimulasi; dan jika Anda lebih tersimulasi dari saya, Anda akan mati.”
[Baudrillard, 2006: 75]

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Agaknya, jika dunia ini memang fatal, maka kita harus menjadi lebih fatal darinya. Apabila dunia ini tak acuh, maka ketidakacuhan kita harus lebih besar. Jika dunia ini begitu menggoda, maka kita pun harus lebih menggoda darinya. Dan, bila dunia ini bergerak dengan demikian cepatnya, maka kita sarat melawan balik dengan melakukan perlambatan; penghayatan atas dunia.

           


Jumat, 04 Juli 2014

Menuju Teknologi Transkomunitas

Menuju Teknologi Transkomunitas


Penulis;
Dr. Muhamad Supraja, S.H., S.Sos., M.Si. [Universitas Gadjah Mada]
Wahyu Budi Nugroho, S.Sos., M.A. [Universitas Udayana]
Dedy Ilham Perdana, S.Sos., M.A. [Universitas Palangkaraya]
Fransiska Romana Catur Utami, S.Sos., M.A.
Dewi Cahyani Puspitasari, S.Sos., M.A. [Universitas Gadjah Mada]

Penerbit: LOGIS [2014]
ISBN: 979-17590-7-3
Tebal: xi + 165 halaman
Ukuran: 15,5 cm x 23,5 cm

Minggu, 15 Juni 2014

Fetis’m Potret Si Jalang Anwar

Fetis’m Potret Si Jalang Anwar


Wahyu Budi Nugroho

“Benda-benda memiliki ruh. Benda-benda sangatlah manusiawi,
karena ia berada di dunia manusia…”
[Dichter]

ADA satu hal yang sering luput dari perhatian kita ketika menyaksikan potret Chairil Anwar di atas. Umum, kita sekedar tertuju pada si Anwar an-Sich; inilah yang dinamakan “sentris-m” dalam cultural studies. Hari-hari kemarin, saat pembacaan ulang atas karya-karya Anwar kulakukan, satu hal membuatku terhenyak sekaligus melapis kesadaran baru; bukan karena sajak-sajaknya yang “merah”, tetapi potret Anwar yang mangapit apik sebatang rokok!

Kita tak sadar, benda [baca: rokok] itu akan terus lekat pada potret legendaris si Anwar, sampai kapanpun, hingga akhir zaman. Itulah potret Anwar yang bakal s’lalu kita kenang. Aku merenung, tidakkah orang-orang berpikir sama sepertiku, tentu bagi mereka yang memperhatikan sebatang rokok itu; Kemanakah ia sekarang? Setelah habis dan mungkin diinjak-matikan si Anwar? Jika ia tinggal sesenti, jadi apakah ia sekarang? Tidakkah tersisa sedikit pun? Terurai jadi apa?. Satu hal yang pasti: takkan dijumpa lagi benda yang telah kita buang dan menjadi sampah.

Ini bukan berarti kita terjebak pada pendewaan benda. Fetisme yang kumaksud di sini bukan itu, alih-alih mengkajinya dalam kerangka social deviants. Memang, sedikit-banyak kupinjam dari Marx, tapi hanya sampai the metaphysics of things, bahwa setiap benda memiliki kualitas metafisik tersendiri. Kualitas metafisik ini menyebabkan suatu benda tak hanya menjadi suatu benda, melainkan lebih dari itu; ada ihwal yang tertanam padanya dan membuatnya serasa spesial. Dalam bahasa Buber, relasi I-Thou ‘Aku-Engkau’. Lazimnya, relasi antara manusia dengan benda menemui bentuknya sebagai I-It ‘Aku-Itu’, sedang relasi antarmanusia sebagai I-Thou, namun tak jarang kedua bentuk relasi ini tertukar satu sama lain. Seorang yang begitu menyayangi gadget-nya misalkan, menunjukkan jalinan relasi I-Thou. Seperti itulah kutempatkan rokok si Anwar, bukan sebagai “It”, tetapi “Thou”; ia tak lagi jadi sebuah benda, ia memiliki ruh sebagaimana Anwar: Ia manusia lain di potret itu!

antisentris
Rokok yang diapit Anwar memendam suatu kualitas tak terbahasakan yang menopang eksistensinya—Anwar. Kini, rahasia begitu-mantap dan berpengaruhnya potret itu terungkap. Ini bukan hanya soal rokok sebagai identitas pemikir atau seniman hingga dekade 1970-an seperti kita lihat pada potret Sartre, Barthes, atau Lacan; tetapi pemanifestasi diri Anwar sebenarnya. Dikata Damono dalam Chairil Anwar Kita; Anwar memang benar-benar binatang jalang, ke-jalangan-nya menjadi simbol ke-seniman-an Indonesia!. Ia tak punya kerja tetap, gemar keluyuran, jorok, selalu kurang uang, penyakitan, pun menjengkelkan tingkah polahnya. Anwar tak minat mengurus diri, mengurus jasmaninya.

Kesemua itu, terangkum dalam sebatang rokok yang disedotnya. Anwar punya banyak waktu senggang dan suka keluyuran sambil menghisap rokok, ia menabur abu dimana-mana, menjadikan semua tempat asbak, kotor dan jorok. Tak peduli pula ia kalau kepul asapnya mengganggu orang-orang sekitar, peduli setan! Pribadi individualis dan karakter eksistensialisnya betul-betul tercermin lewat situ, tak heran, banyak sajaknya tak lulus-muat karena menyalahi semangat zaman—kala itu bumi pertiwi butuh semangat solidaritas sosial. Sebagai pelengkap keranjingannya merokok, juga begadang; Anwar suka batuk-batuk, dan memang, ia mengidap TBC; ia manusia penyakitan. Satu lagi, Anwar tak suka pakpung, aroma tubuhnya apek rokok. Rokok dalam potret itu bak ruhnya yang menjelma keluar dan menampakkan diri Anwar sebenarnya: Anwar benar-benar jalang, binatang jalang!

Pertanyaannya, bagaimana serangkai analisis (baca: tafsir) di atas menjadi mungkin?

Well, mungkin beberapa pihak menyangka analisis ini berada di tataran semiotik. Namun, bukan itu yang kumau dan kumaksud. Lebih suka kukatakan, ini terangkai dalam ruang hibrid-Bakhtin. Ya! Ruang ketiga, ruang silang dimana kita tak pernah benar-benar lepas dari masa lalu; ada keterikatan antara kini dan masa silam, juga budaya dan artefak yang menyertainya. Aku tak mungkin mempersoalkan rokok yang diapit Anwar jika tak tahu benda itu adalah rokok. Aku tak mungkin menulis tentang Anwar jika tak ngeh serba-serbi mengenainya. Dikarena Anwar t’lah terjebak dalam linearitas waktu bersamaku, plus kita berdiri di tanah yang sama; dan meskipun ia t’lah berpulang, aku tak pernah betul-betul kehilangan jejaknya. Rentang tidur antardirinya dan diriku mencipta ruang ketiga, ruang silang tempat aku mencangkokkan diri ke semestanya, dalam semesta itulah tulisan ini menjadi mungkin.

_______

Betul kau, War. Hidup cuma tunda kekalahan.
Kalah dari usia benda-benda yang melampaui kita,
kalah dari kehidupan tulisan-tulisan kita.
Verba volant, scripta manent
‘yang terucap bakal musnah, yang tertulis bakal abadi’…


*****
  

Rabu, 28 Mei 2014

Menuju Era “Posthuman”

Menuju Era “Posthuman”
Telaah Singkat Pemikiran Robert Pepperell
tentang Kompleksitas Kesadaran, Manusia dan Teknologi


Wahyu Budi Nugroho

“Para ‘posthuman’ telah mengatasi batasan-batasan biologis, neurologis,
dan psikologis yang ada pada diri manusia (‘human’)”
[Pepperell, 2009: 300]

Posthuman ‘pascamanusia’. Inilah era yang tengah kita hadapi bersama menurut Robert Pepperell. Argumen Pepperell cukup sederhana, kini teknologi tak lagi dapat ditempatkan di bawah manusia; teknologi sejajar dengan manusia, bahkan melampauinya. Secara ringkas, Pepperell hendak mengatakan bahwa kini, tanpa teknologi manusia bukanlah apa-apa. Ia mengambil misal para pengidap lemah jantung yang menanamkan alat pacu di tubuhnya. Baginya, mereka tak lagi menjadi manusia murni, melainkan melampauinya; manusia setengah robot, bahkan cyborg!. Pepperell menggunakan istilah “prostetik” bagi fenomena-fenomena semacam ini. Beberapa misal lainnya seperti temuan Dr. William Dobelle yang menawarkan penglihatan parsial bagi para penderita tunanetra lewat rangkaian elektroda yang ditanam ke otak dan terhubung pada kamera video mini. Begitu pula Prof. Kevin Warwick dengan chip cerdasnya yang mampu mengartikulasikan aktivitas otak untuk menggerakkan bagian-bagian tubuh manusia. Kesemua hal tersebut agaknya menegaskan kian tipisnya batasan antara yang organik dengan yang mekanik.

Memang, tampak jika Pepperell berpijak di atas konsep kemanusiaan Hobbes yang sekedar mengandaikan manusia sebagai mesin, sedang perasaan yang bergolak di dalamnya tak ubahnya reaksi kimia semata. Pandangan manusia-mekanik Pepperell kian terkukuhkan manakala dirinya mengutip berbagai pernyataan Dawkins guna menjelaskan eksistensi manusia sebagai “mesin organik”. Berangkat dari penyamaan ini, Pepperell beranjak lebih jauh pada kelebihan mesin anorganik ketimbang mesin organik. Dalam pengamatannya, tak menutup kemungkinan jika kelak manusia-manusia cyborg bakal menggantikan keberadaan manusia-manusia organik, dan ini sarat dilihat dari sudut kemajuan evolusi manusia—bahwa dunia cyborg itulah yang saat ini tengah kita tuju. Dengan demikian, “pascamanusia” pun dapat didaulat sebagai proses penggerusan mesin-mesin organik yang dinilai rentan dan sulit di-regenerasi untuk kemudian beralih pada mesin-mesin anorganik yang kuat, mudah diciptakan, dan selalu berada dalam pengawasan (kontrol) tanpa meninggalkan dimensi organiknya. Tegas dan jelasnya, manusia-manusia posthuman didaulat sebagai pribadi-pribadi dengan kemampuan fisik, intelektual, dan psikologis yang belum pernah ada sebelumnya.
           
Satu kajian menarik Pepperell yang tak patut dilewatkan adalah ulasannya mengenai “kreativitas yang diotomatiskan”. Istilah tersebut dicetuskan guna mengkaji ekspansi instrumen-instrumen teknologi (pos)modern dalam ranah seni. Secara konkret, ini dimisalkan dengan penggunaan beragam aplikasi komputer seperti adobe photoshop, picasa, paint, office manager, dan lain sejenisnya guna mencipta karya seni. Hadirnya aplikasi tersebut tanpa disadari menggeser pengertian awal “kreativitas”. Kreativitas, yang mulanya berasal dari kreasi langsung manusia—tangan manusia—kini menjadi ihwal yang tak langsung dan penuh dengan simulasi (rekayasa) nonmanusia. Pepperell mengakui hal ini sebagai kemunduran estetika dan spontanitas artistik, meski ia menggunakan bahasa yang “berat” dan berkelit dengan pembelaan bahwa teknologi semacam ini mampu memanifestasikan imajinasi manusia sebagaimana mestinya.
       
Pada akhirnya, posthuman mendaulat kematian humanisme. Dengan kata lain, ia adalah akhir dari humanisme; akhir dari kepercayaan bahwa segala sesuatunya berpusat pada manusia (antroposentrisme). Posthuman mengkebiri aroganisme dan kesombongan manusia yang percaya akan kemampuannya menaklukkan jagat semesta; keyakinan yang lambat-laun bakal terkikis seiring keinsyafan bahwa mesin-mesin anorganik telah melampauinya.


Mann, oh Mann…!

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger