"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Senin, 01 September 2014

Burung (18+): Sastra Selangkangan

Burung (18+): Sastra Selangkangan


Wahyu BN

“Eh, ntar lah Rung, kau nih!” kumarahi dia. Tak apa, aku galak dikit, meski dikatanya; sudah sejak tadi-tadi ditahannya.

Nanti, nanti, tanggung nih! Kurang dua paragraf. Hormat dikitlah ma tuanmu, toh kemarin juga udah kuservis! Eh, awas kau ya kalau buat aku kecirit-pirit. Tuh kan, nakal kan; eh jangan dong, tanggung nih. Asem kon!

Nah gitu dong, aku minum dulu ya, ini kopi enak banget, asli Toraja, dari kampung Kalosi. Pelan-pelan aja ya, hu’umh, sante. Kamu slow aja, aku masukin dikit kok. Tahan napas, bentar, cuma ketambahan dikit kok. Heh, apa? Udah nggak nahan?! Sabar dong, sabar; orang sabar disayang Tuhan, katanya. Entah kata siapa ya? Filsuf ? Kayaknya bukan deh, masa kamu mau percaya filsuf, Rung? Janganlah, percaya ma Jonru aja, itu menghibur, buat kita yang lagi galau.

Aku mimik dulu ya. Tuh kan, ga’ papa kan? Asal bisa cool-calm-confident, semua baik-baik aja, Rung. Percaya kan ma akuwh?. Lho, mana nih kalimat-kalimatku? Gara-gara kamu sih, aku jadi nggak ngetik-ngetik, sampai mbacot ke filsafat segala. Oke, bentar ya Rung, kau tahan dulu, aku rampungin ketikanku.

Eh Rung, serius nih, baru sekalimat! Masa separagraf cuma sekalimat? Ntar aku keliatan goblok bingits. Kita kompromi lah ya, kayak omongannya Habermas itu lho. Hah, apa? Habermas kok nggak mati-mati? Hush, ngawur kau Rung! Dia itu orang gede, jauh lebih gede dari aku sama kamu. Hah, ngga peduli? Yawis, mbuhlah Rung, sakarepmu. Kamu jangan ajak aku ngobrol terus dong, nggak jadi-jadi nih tulisanku. Hah? Udah keluar?! DJANCOK!


Jogja, 02.09.14

Minggu, 10 Agustus 2014

Andy Warhol dan Eksentrisme Budaya Pop

Andy Warhol dan Eksentrisme Budaya Pop
Wahyu | Budi | Nugroho


“Dalam lima belas menit, semua orang akan terkenal.”
[Andy Warhol]

Seni yang tak elit, ini kurang-lebih yang kutangkap dari karya-karya si Warhol. Bagaimana jika, seni ada dimanapun, dan bisa diakses siapapun. “Akses” di sini tak berarti membeli, cukup orang mampu berkomentar tentangnya, maka ia punya akses atasnya; lebih bagus lagi jika bisa menyaksikannya secara langsung. Kita tak mau muluk-muluk bicara seni tinggi seperti Madonna of The Rocks-nya Raphael. Tuh kan, salah! Madonna of The Rocks karya da Vinci!. Eh, apa beda gurat lukis antara da Vinci, Raphael, dan Michaelangelo? Aku sendiri tak tahu; judul masing-masing karya mereka saja kerap tertukar, apalagi berkomentar [?]. Ini beda kala kulihat gambar sablon warna-warni yang begitu mencolok nan cukup kontras, “Warholisme!”, setidaknya, itu yang bisa kuteriakkan, tak peduli cover album Hot Space superband Queen awal tahun 80-an dikreasi oleh Warhol ataukah tidak, tapi jelas, itu warholisme.


Warhol memang dikenal mpunya budaya pop, itu tersemat sejak dekade 50-an. Ia mengangkat hal-hal remeh dalam karyanya, bagaimana botol kosong Coca-cola yang biasa kita temui di keseharian menjadi citra yang menyenangkan, unik-eksentrik, lagi menyita perhatian. Andy Warhol memang kurang ajar, ia seperti mengolok-olok publik, melecehkan dimensi estetis mereka, juga persepsi khalayak luas tentang bagaimana sebuah karya seni harusnya dibuat; tak ada lagi keagungan dan kemurnian, pun proses yang berlama-lama. Baginya, karena dunia telah berputar demikian cepatnya, maka segala sesuatunya sarat serba ringkas dan instan. Apresiasi tak butuh waktu lama, cukup mengerti, tahu, dan tersenyum; selesai. Bukankah memang itu tujuan dari seni?. Dalam konteks ini, “ekspose karya” menjadi urgen, persetan walau hanya 1-2 menit, yang terpenting telah ada manusia yang melihatnya, pun walau hanya 1-2 orang. Mengapa? Karena sebuah karya ibarat makhluk dan bukan Tuhan yang mampu berdiri sendiri; hanya publik-lah (baca: manusia lain) yang dapat “meresmikan” lahirnya sebuah karya. Dengan begitu, “pengumuman karya kepada dunia” menjadi tak kalah penting, kecepatan dan kemasifannya inilah yang kemudian menjadikannya BUDAYA POP; pop, populer secara sekejap.

[Budaya pop]
Tentu, di sini kita hendak mengesampingkan asketisme dalam berkarya, bahkan menginjaknya!. Warhol membuat kita berpikir bahwa penulis atau pelukis yang dengan alim lagi rendah hati menyimpan secara rahasia karya-karyanya hingga menunggu ditemukan orang lain dan mendunia; menjadi sangat konyol. Dalam dunia serba chaos sebagaimana ter-representasi lewat lukisan-lukisan impresionisme Pollock yang hidup sezaman dengan Warhol, eksistensi menjadi penting, eksistensi nantinya menjadi simbol, dan simbol inilah yang kemudian menjadi sarana dialog antarmanusia lintas bangsa, budaya, dan bahasa. Lewat “keberadaan” itulah pikir Warhol, dunia bakal mengetahui semarak keberagamannya, dengan demikian, dunia bakal lebih siap dan toleran menerima perbedaan. Bisa jadi, seni Warhol dikata sebagai “pemerkosaan visual” lewat sudut pandang baudrillardian karena kesannya yang terburu-buru dan terlampau cepat; timbul dan tenggelam begitu saja.

Lebih jauh, hal di atas dapat dimisalkan lewat salah satu episode kartun SpongeBob, di mana SpongeBob dijauhi orang-orang karena nafasnya sangat bau—sedang ia menyangka karena buruk rupa, kemudian Patrick mempertontonkan SpongeBob kemanapun sembari berteriak, “Lihat…! Dia memang jelek!”. Apa yang diniatkan Patrick sesungguhnya sangat baik, agar orang-orang “tak kaget” dengan kejelekan SpongeBob bila suatu kali bertemu. Perkara yang dipikirkan Patrick adalah “menyegerakan tragedi”, lewat penyegeraan itu diharap proses (waktu) adaptasi dan penerimaan publik kian terpangkas, seperti inilah seni Warhol!.

[Manusia-manusia ikonik]
Terlepas dari persoalan katarsis, budaya pop Warhol berhasil menciptakan manusia-manusia ikonik. Seperti ungkapnya, kelak semua orang bakal terkenal dalam lima belas menit, agaknya saat inilah era yang dimaksudkan Warhol. Menjadi manusia ikonik bukanlah aib, sebagaimana karya pop, manusia ikonik atau manusia-manusia pop menyerua dan menampakkan diri di hadapan dunia; untuk diketahui, untuk dikenal, tanpa perlu direspon atau diagungkan; begitu pula, tak peduli walau hanya disaksikan segelintir orang, semuanya sudah cukup. karena ia mesti buru-buru raib. Dari sini, kita dapat balik mempertanyakan kritik-kritik tajam yang dilayangkan pada budaya pop selama ini, bahwa nyatanya, dimensi kesesaatan dan keinstanan dalam seni pop memuat dialog yang sangat padat, juga efisiensinya dalam menjamah publik luas. Apa jadinya jika idealisme estetik masyarakat Italia mensaratkan lukisan asli Monalisa diusung kesana-kemari tuk diperkenalkan (baca: berdialog) pada dunia, tentu menjadi sangat tak efisien, oleh karenanya, ia perlu direproduksi dahulu, hasil dari reproduksi tersebutlah yang kemudian menjadi budaya pop. Kita bisa saja mencuplik kritik Walter Benjamin atas reproduksi tersebut, namun ini akan seperti mahasiswa kedokteran yang ribut mempertanyakan legalitas prakteknya, sedang orang sekarat di hadapan segera membutuhkan pertolongan!

Andy Warhol tak bersalah, yang berdosa para penirunya.


Kamis, 07 Agustus 2014

Penulis tanpa Pena

Penulis tanpa Pena

Wahyu Budi Nugroho

Penulis. Tanpa disadari terminus tersebut telah mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Mungkin, di era de Sade dan Defoe, penulis benar-benar mereka yang menulis dengan penanya. Namun tatkala beberapa abad kemudian kita masuki era Sartre, Hemingway, atau Carson; penulis tak lagi menulis dengan pena, melainkan mesin tik. Tentu, kita masih ingat potret apik Hemingway yang tengah mengetik sambil berdiri, potret itu seolah menjadikan mesin tik identitas utama para penulis di eranya, tak lagi pena. Kini, tak lagi pena atau mesin tik, tetapi laptop. Rowling, Brown, dan Meyer dengan piawai memainkan jemarinya di permukaan keyboard, merangkai acak huruf menjadi kata, memintal kata menjadi kalimat yang menyihir, dan seterusnya. Masihkah mereka menjadi, atau…, disebut sebagai seorang penulis?.

Kita luput dari permainan kata yang memiliki dunianya sendiri, hukum-hukumnya sendiri. Nyatanya, tajam nalar manusia silap oleh perdaya bahasa yang bermain sangat halus. Bahasa menjadi lebih politis ketimbang manusia, bahkan dari politik itu sendiri. Senyap tapi pasti, bahasa menjadi satu instrumen yang mampu terus bercokol dan langgeng dari perubahan-perubahan di luar sana. Tak peduli mesin tik telah ditemukan atau laptop telah diciptakan; mereka yang merangkai cerita melaluinya ajeg dikatai penulis, bukan pengetik. Jika mereka benar-benar penulis, kita pun berhak bertanya, “Eh, dimana pena dan kertasmu?”. Sayangnya, mereka tak lagi menjadi seorang penulis, melainkan PENGARANG.

Senin, 21 Juli 2014

Obyek, Kecabulan dan Godaan

Obyek, Kecabulan dan Godaan
Telaah Ekstasi Komunikasi


Wahyu Budi Nugroho

Kecabulan: Menggoda dan Mengusik
Kecabulan tak lagi sekedar menyoal hal-hal berbau pornografi ataupun pornoaksi yang disajikan secara implisit: di mana ada godaan, di situ ada kecabulan. Dalam konteks pornografi, nuansa cabul kental terasa kala kita terusik oleh visualisasi-visualisasi seksual yang bersifat “semi”; kita diajak menerawang dan mengetahui dimensi-dimensi visual yang disembunyikan, meskipun pada akhirnya kita takkan pernah benar-benar tahu seluruhnya. Tegas dan jelasnya, kecabulan selalu menggoda dan mengusik.

“Godaan justru datang dari tanda-tanda yang kosong, samar, mentok, ngawur, dan kebetulan belaka; yang menggelincir dengan lancar sehingga mengubah indeks pembiasan ruang.”
[Baudrillard, 2006: 51]

Kini, hampir segala sesuatunya tersaji secara gamblang, akses-akses luas nan tak terbatas pada saluran-saluran pornografi vulgar membuat kita terbiasa dengan tubuh-tubuh bugil, kemaluan sesama ataupun lawan jenis, juga adegan-adegan senonoh. Berbagai hal tersebut, dengan sendirinya mereduksi kecabulan. Segala sesuatunya telah tampak, tak ada lagi yang menarik! Lalu, apa yang tertinggal? Kemuakan dan ke-fatal-an. Fatal, karena “godaan” telah hilang, sedang kesenangan hanya dapat diperoleh melalui godaan. Ini seperti sifat dasar manusia yang selalu tertarik pada teka-teki tuk dipecahkan. Jika misteri telah hilang, lalu apalagi yang dapat dipecahkan?

“Ketika seseorang telah tertipu secara visual, maka ia akan mencari kesenangan dengan menduga-duga, meskipun sesungguhnya tak ada tipuan untuk membodohi … Kesenangan tidak lain adalah nafsu dingin untuk melihat, sementara tidak ada obyek untuk dilihat; nafsu dingin untuk memandang, sementara tidak ada citra untuk dipandang.”
[Baudrillard, 2006: 21 & 23]

Hal serupa termisal apik dalam novel Soren Kierkegaard, The Diary of A Seducer, di mana seorang gadis muda nan ranum merupakan kekuatan penuh teka-teki, dan proses godaan merupakan pemecahan yang juga penuh teka-teki atas kerahasiaannya yang sulit terbongkar. Namun, apakah yang sebetulnya menjadi kunci kerahasiaan gadis muda itu? Jawabnya mudah: “seks”. Sekali si pria yang terusik oleh teka-tekinya berhasil melakukan hubungan seks dengannya, maka tersibaklah segala rahasia gadis muda nan ranum itu; tak ada lagi yang menarik darinya: “Oh, begini rasanya”.


Ketiadaan teka-teki yang sekaligus menandai pemberangusan daya kreativitas manusia guna menyibak dimensi-dimensi tersembunyi pada gilirannya berbuah pada “perkosaan”. Kita dipaksa untuk tahu: “Oh, ‘punyanya’ seperti itu”; “Oh, seperti ini”, demikian seterusnya. Implikasi ikutan yang ditimbulkannya jelas: manusia tak lagi menjadi aktor, melainkan terminal tempat masifnya arus informasi yang singgah dan pergi begitu saja, manusia pun menjadi pasif—akibat korban perkosaan. Akan menjadi lebih bijak dan berdayaguna jika kecabulan selamanya tetap menjadi kecabulan, teka-teki ajeg menjadi teka-teki; dengan begitu, kesenangan akan selalu ada, upaya-upaya kemanusiaan bakal terus eksis membarenginya.

Perkosaan Media; Ekstasi Informasi
Sebuah tembok bertuliskan grafiti tentang nama seseorang dan tempat asalnya. Secara bersamaan, orang itu sesungguhnya tak memiliki sesuatu pun untuk dikatakan, yang terparah adalah bagi mereka yang melihatnya (baca: membacanya), tulisan itu sama sekali tak berdayaguna bagi mereka—sampah visual. Tulisan grafiti itu porno karena dipaksakan, meski mengandung kecabulan ganda; cabul bagi si pembuat karena ia sendiri menerka-nerka motif dari tulisan yang dibuatnya, dan cabul bagi pembacanya karena membuat mereka menerka maksud penulisnya—karena tak berguna bagi mereka.

TV telah menampilkan segala sesuatunya pada kita, baik hal-hal yang kita butuhkan maupun tidak. Sialnya, ia melakukannya secara berulang tanpa kenal lelah. Misal termudah dapat kita temukan pada beberapa stasiun televisi swasta tanah air yang menampilkan hasil hitung cepat pilpres beberapa tempo lalu. Quick count yang ditampilkannya aneh, janggal; di mana jumlah prosentase perolehan suara masing-masing capres-cawapres melampaui 100%, hil yang mustahal bagi mekanisme survei. Namun, TV tersebut terus saja menampilkannya, oleh karenanya, kita dapat mengatainya porno! Meski si Mpu-nya melihat itu sebagai kesenangan karena kecabulan tindakannya, yakni motifnya tuk menggoda, mempengaruhi, dan kemudian mengetahui respon penontonnya yang masih samar. Singkat kata, ia alpa jika tengah memperkosa banyak orang.

Gambar Porno

Lalu, bagaimana dengan audiens yang langsung terkena imbasnya? Sayangnya, kecabulan dan godaan memang tak dapat dihindari. Segera setelah kita berlari dari satu kecabulan, kita bakal menjumpa kecabulan-kecabulan lainnya; semisal Anda berniat memindah channel TV. Mari kita berfokus pada mereka yang bahkan untuk menghindar pun tak bisa, alih-alih berlari—menggandrungi suatu acara TV mungkin sehingga tampilan quick count yang menggelikan tak terhindarkan. Agaknya, kita memang kadung bergantung akut pada TV; untuk berbuka puasa, kita lebih mempercayai TV; begitu pula guna merasakan atmosfer ramadhan, natal, atau tahun baru; kita sangat bergantung pada TV! Inilah ekstasi yang sesungguhnya, momen ketika segala sesuatunya terpusat pada satu spot; mirip kerja seluruh anggota tubuh kita yang terpusat pada otak.

“Ekstasi adalah kondisi di mana seluruh fungsi diciutkan dalam satu dimensi… Seluruh peristiwa, ruang, dan ingatan dimampatkan dalam dimensi tunggal informasi, dan inilah kecabulan.”
[Baudrillard, 2006: 14]

Jika segala sesuatunya telah terpusat sedemikian rupa pada satu hal, maka lagi-lagi kita akan menemui ke-fatal-an. Fatal, karena jika ia tak berfungsi sebagaimana mestinya, lumpuhlah semua yang dikontrolnya; tak ada lagi yang tersisa. Ekstasi sebagai biang seluruh persoalan ini, menyuntikkan teror demi teror yang tak disadari, ia memaksa kita larut dalam dunia serba transparan, dan sembari kita diperlakukan sebagai pengidap schizophrenia yang tercerabut dari dunia nyata, kita menjadi lengah jikalau mimpi yang tengah kita alami mendadak usai. Ini bagaikan epifani yang tiba-tiba menyerua dan mengungkap semua yang dirahasiakannya selama ini. Jika sudah demikian, maka kematian mendadaklah yang terjadi kemudian.

Obyek-obyek Cabul; Ekstasi Sosial
Obyek-obyek cabul tak lagi menjadi monopoli obyek-obyek hidup layaknya Julia Perez, Dewi Persik, ataupun Roro Fitria; melainkan pula pada benda-benda mati tak bernyawa. Masukilah sebuah pusat perbelanjaan, dan kecabulan bakal segera ditemui dimana-mana. Obyek-obyek ini, meskipun tak bernyawa, tetapi mampu berkomunikasi dengan kita. Mereka menggoda kita untuk mencicipi, atau lebih jauh, memiliki. Bagaimana itu menjadi mungkin? Kita sarat mengesampingkan dimensi produksi sebagai esensi lahirnya sebuah komoditas; bagaimana jika bukan produksi, tetapi justru “godaan” yang melatarbelakangi lahirnya komoditas. Jika hadirnya sebuah komoditas memiliki tujuan—dalam hal ini untuk menggoda—maka ia pun sarat memiliki takdir (goal), yakni untuk dikonsumsi!

Roro Fitria

Cara obyek berkomunikasi dengan kita ialah melalui makna-makna yang tersemat padanya. Uniknya, makna obyek bernegasi dengan makna kemanusiaan. Apabila makna kemanusiaan selalu bersifat esensial, abstrak, serta “di dalam”, makna obyek justru bersifat eksistensial, menjadi konkret, dan “di luar”. Makna pada obyek kemudian menjadi sesuatu yang hanya tereduksi pada tampilan luar, dengan premis: sekedar yang terlihatlah yang bernilai bagi kita. Hal ini tak lain disebabkan oleh strategi godaan.

“Inti strategi godaan adalah membawa segala hal pada keadaan murni tampilan luar, membuat mereka menyebar dan jemu dalam permainan ‘petak-umpet’ tampilan-tampilan luar … karena segala sesuatu telah terperangkap dalam kerangkeng makna, ke dasar tempat makna-makna harus ditambang, dan kemudian ditampilkan ulang dalam tatanan apa-apa yang terlihat. Akibatnya, rahasia kehilangan artinya dan hanya yang terlihatlah yang kemudian menjadi bernilai bagi kita.”
[Baudrillard, 2006: 54]

Spectacle society ‘masyarakat tontonan’. Itulah kondisi sosial kita kala tampilan makna luar mengepung di sana-sini. Apa yang menjadi lebih penting adalah tampilan luar; yang buruk terlihat cantik, dan yang cantik tampak lebih cantik. Masyarakat tontonan bekerja dengan prinsip “peniruan atas peniruan” sehingga kemurnian tak lagi tampak, tertutup oleh lapis demi lapis simulasi (rekayasa) yang tak terhingga. Dengan demikian, apa yang dihasilkan kemudian adalah “kelebihan atas kelebihan”, sebentuk hiperrealitas: ihwal yang melampaui kenyataan. Lambat-laun, masyarakat tontonan akan menuju pada sikon “masyarakat seremonial”; masyarakat yang ajeg merayakan sesuatu namun tak paham ihwal yang dirayakannya. Perayaan-perayaan ini nantinya hanya menemui kekosongan karena segala sesuatu telah melampaui definisinya sendiri. Akhirnya, kita pun sarat kembali pada ke-fatal-an guna menuntaskan segala bentuk ironi di atas.

“Jika Anda lebih cantik dari saya, Anda akan mati; lebih benar dari saya, Anda akan mati; lebih nyata dari saya, Anda akan tersimulasi; dan jika Anda lebih tersimulasi dari saya, Anda akan mati.”
[Baudrillard, 2006: 75]

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Agaknya, jika dunia ini memang fatal, maka kita harus menjadi lebih fatal darinya. Apabila dunia ini tak acuh, maka ketidakacuhan kita harus lebih besar. Jika dunia ini begitu menggoda, maka kita pun harus lebih menggoda darinya. Dan, bila dunia ini bergerak dengan demikian cepatnya, maka kita sarat melawan balik dengan melakukan perlambatan; penghayatan atas dunia.

           


Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger