"To revolt today, means to revolt against war" [Albert Camus]

Blog ini berisi working paper, publikasi penelitian, resume berikut review eksemplar terkait studi ilmu-ilmu sosial & humaniora, khususnya disiplin sosiologi, yang dilakukan oleh Wahyu Budi Nugroho [S.Sos., M.A]. Menjadi harapan tersendiri kiranya, agar khalayak yang memiliki minat terhadap studi ilmu-ilmu sosial & humaniora dapat memanfaatkan berbagai hasil kajian dalam blog ini dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab.


Jumat, 21 November 2014

Harga Diri

HARGA DIRI


“100 ribu, Mbak. Tapi, kau temani aku ke toilet,”
            “Bapak ini apa-apaan sih?! Tak seharusnya Bapak bicara seperti itu!”

            Kemudian ia berlalu, begitu saja. Terminal, selalu sulit menemukan hiburan di tempat ini. Lalu-lalang manusia menjadi pesona mafhum, tak ada yang spesial dari mereka, karena memang, arena ini hanyalah temporalitas yang memusingkan. Betapa transit adalah hal paling memuakkan!

            “Mbak?!” kupanggil lagi pelayan itu, pelayan ceking berwajah tirus cantik yang kutumpu menjadi satu-satunya penghiburku di sini.
            “Ya, Bapak butuh apa lagi?”
            “Aku butuh kamu, Mbak,”
            “Tolong Pak, jangan bicara seperti itu,”
            “200 ribu, Mbak?”
            “Bapak apa-apaan sih?!” ia kembali menggugatku, sama seperti sebelumnya.

            “Mbak,” kupanggil dirinya sebelum mencampakkanku tuk kesekian kalinya.
            “Ya?”
            “Bisa temani aku di sini, Mbak? Ngobrol,”
            “Maaf Pak, saya masih banyak kerjaan,”
            “Sebentaaar saja,”
            “Tidak bisa Pak, maaf.”
            “Oke deh, es tehnya satu lagi kalau gitu,”
            “Baik, Pak,”

            Kusulut rokok, benar-betul tak ada kenikmatan lain di sini. Mungkin juga karena aku sendirian saja di warung ini, tak ada pengunjung lain tuk bercakap. Aku hendak menyibukkan diri, tapi apa?!

            “Ini, Pak,” pelayan cantik itu membawa pesanan di batas rokokku yang setengah, cukup lama memang, apa ia meracunku? Sekejap kulihat lagi tangannya yang putih ditumbuhi cukup lebat bulu. Ini betul-betul tak tertahankan…

“500 ribu, Mbak!”
            “Tolong Pak, jangan bicara seperti itu!”
            “500 ribu lho, Mbak?!”
            “Tidak Pak, saya tidak bisa!”
            “Kamu tidak bisa, atau tidak mau?”

            Sejurus, bus yang t’lah lama kunanti tiba. Aku pergi tanpa menjamah pesanan. Pelayan itu memenangkan harga dirinya. Aku masih suci. Kami semua menang.


*****

Sabtu, 01 November 2014

Green Criminology

GREEN CRIMINOLOGY

Pengantar: Prof. Rob White

Oleh: Hardiat Dani Satria

Seiring perkembangan perubahan hidup masyarakat, bentuk kejahatan lingkungan pun turut berubah. Masyarakat menghadapi permasalahan, antara perkembangan teknologi dan tuntutan kenyamanan di lingkungan tempatnya tinggal. Dengan kata lain, perkembangan teknologi dapat meningkatkan kualitas hidup manusia, sekaligus menimbulkan kerusakan lingkungan.

Menurut White, besarnya minat khalayak dalam perkembangan green criminology dewasa ini menimbulkan berbagai temuan konsep dan teknik analisis baru atasnya. Secara tak langsung, hal ini turut meningkatkan kesadaran betapa telah seriusnya masalah kerusakan lingkungan yang mengancam manusia. Hubungan antara pendekatan sosiologis dan ilmu alam di bidang isu-isu lingkungan, bertujuan untuk memecahkan dan meneliti isu-isu lingkungan. Seiring berjalannya waktu, kita menyaksikan kontribusi green criminology yang lebih besar dan lebih positif.

Green criminology merupakan cabang baru kriminologi, yang dalam dua dekade terakhir berkembang jauh lebih cepat daripada cabang disiplin kriminologi lainnya. Hal ini memperluas bidang penelitian yang begitu cepat pula sebagai konsekuensi perubahan bentuk-bentuk kejahatan lingkungan. Meskipun perkembangannya pesat, namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Perlu diingat, White menegaskan, dalam dunia nyata, situasi adalah sebaliknya, yaitu green criminology menyesuaikan dengan fenomena munculnya kejahatan terhadap lingkungan.

Dalam buku ini, saya mencoba mengimplementasikan konsep-konsep green criminology pada kasus yang terjadi di sekitar penulis. Menggunakan studi kasus di daerah tempat tinggal penulis di Kendal, Jawa Tengah, penulis menjadi tahu seberapa besar peran kriminologi dalam pemecahan kasus kejahatan lingkungan. Kejahatan lingkungan tidak akan pernah selesai melalui penegakan hukum semata. Diperlukan konstribusi semua pihak untuk memberikan perhatian terhadap lingkungan. Segala sesuatunya dalam kebijakan pemerintah ataupun tindakan masyarakat  harus memberikan efek terhadap kelestarian lingkungan, itulah GREEN CRIMINOLOGY.


Pemesanan:
0813-9086-4062

Rabu, 08 Oktober 2014

Pejalan Hati

Pejalan Hati
 
wahyu budi nugroho

Bolehkah aku berjalan-jalan di hatimu?
Berjalan dan terus berjalan
Kan kuhayati tiap langkah di dinding-dinding hatimu
Tak kuperlukan peta, karena memang inginku tersesat di rimba rasamu
Tak perlu risau, tak cuma manis dan wangimu yang siap kukecup,
tapi juga pahit dan racunmu, asal di hatimu
Kini, tak perlu lagi kau sembunyikan bilik-bilik

Bolehkah aku berjalan di hatimu?
Lewat perjalanan, hendak kukenal lebih jauh
Tak kupakai tongkat tuk memudahkan langkah,
meski dinding hatimu begitu licin,
ku berjalan dengan kaki-kaki telanjang,
tak mau melukaimu.

Bolehkah aku?

Senin, 06 Oktober 2014

SOCIOLOGY INTERNATIONAL PEACE SYMPOSIUM

Sociology Research Center & Humanity First, Proudly Present.
INTERNATIONAL PEACE SYMPOSIUM
"Discourses and Practices of Multiculturalism and Peace in Indonesia”

University Club Hall
Wednesday, October 8th 2014
FREE ENTRY | LUNCH | CERTIFICATE

Further Information 
Ade (087 838 226 930)

For Registration
Mustika (085 669 903 899)
Format : NAME # INSTITUTION # PHONE NUMBER # REGISTER

Don't miss it !!!

Facebook Connect

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger